Drama Jepang, Movie Jepang, Sinopsis Drama Jepang, Review, Fan Fiction, NEWS

Friday, July 05, 2013

SYNOPSIS: 35 sai no Koukousei episode 02


The synopsis and screen caps below are originally made by Kelana. If you want to copy/repost at another site/blog, please TAKE IT WITH FULL CREDIT. Enjoy minna-san . . . ^_^V

“Ketua kelas ... “
Pertemuan di ruang guru pagi itu, kepalas sekolah membawa poster baru. Tema SMA Kunikida bulan ini adalah Zero Bullying. Seperti biasa, kepala sekolah dengan semangat memperkenalkan ide barunya. Para guru tampak terdiam, kadang terdengar bisik-bisik ragu dan mencibir atas ide kepala sekolah ini.
“Apa sekolah kita akan baik-baik saja?” gumam Koizumi-sensei.

Pertemuan berakhir. Tapi wakil kepala sekolah mengingatkan kalau masih ada satu hal lagi yang harus disampaikan. Yup, kepala sekolah memperkenalkan kotak pendapat sebagai bagian dari program barunya ini.
“Jika para siswa punya masalah, kita tidak akan membiarkan sedikitpun peluang bullying! Ini senjata rahasia kita!” ujar kepala sekolah lagi.
“Bukankah itu kuno?” bisik Nagamine-sensei di teling Koizumi-sensei.
Kepala sekolah menyerahkan kotak itu pada Koizumi-sensei. Koizumi-sensei juga diingatkan untuk segera menentukan ketua kelas dari kelas yang diampunya.
Kozumi-sensei kembali ke kelas dengan kotak di tangan. Ia menjelaskan kalau itu adalah kotak pendapat. Jadi setiap siswa bisa menggunakannya jika merasa punya masalah. Sementara itu reaksi bermacam-macam muncul, membuat suasana kelas semakin gaduh.
“Baik, tenang semua. Kita akan memilih ketua kelas. Apa ada yang tertarik melakukannya?” Koizumi-sensei melihat sekeliling, tapi tidak ada satupun yang mengangkat tangan. “Jadi tidak ada yang bersedia? Ah, Yuki, sepertinya kau cocok dengan ini,” usul Koizumi-sensei kemudian.
“Tidak bisa.”
Koizumi-sensei menawarkannya pada siswa lain. Tapi jawaban mereka semua nyaris sama, tidak ada yang bersedia. Dia akhirnya menawarkan voting, yang ditolak mentah-mentah oleh anak-anak tim 1. Suasana kelas mulai tidak terkendali.
“Aku yang akan melakukannya!” ujar Baba tiba-tiba.
Seisi kelas kaget, tidak terkecuali Koizumi-sensei. Tapi anak-anak tim 1 segera bereaksi, mereka mendukung Baba Ayako menjadi ketua kelas. Keputusan yang hanya bisa diiyakan oleh anak-anak lain.
Jam pulang sekolah. Tinggal Koizumi-sensei yang bersiap pulang sambil sesekali menelepon dan Baba Ayako dengan kotak pendapat di mejanya.
“Aku ada urusan lain. Jadi kau yang mengurusnya,” ujar Koizumi-sensei dengan santainya.
“Memangnya siswa boleh melihat ini?” protes Baba.
“Kau tidak mengerti. Baba, kau kan sudah dewasa. Kau punya banyak pengalaman. Ini cocok denganmu,” elak Koizumi-sensei. (huh, cari alasan aja nih sensei)
“Ah ... aku ingin pulang dan minum bir!” keluh Baba lagi. Tapi dia mulai mengeluarkan kertas-kertas dari kotak pendapat itu. Sementara Koizumi-sensei sendiri asyik dengan teleponnya.
“Ah ... “
Ucapan Baba menarik perhatian Koizumi-sensei. Tapi ternyata kertas-kertas itu hanya berisi kalimat-kalimat sampah yang tidak penting sama sekali. Koizumi-sensei kecewa, dan kembali sibuk dengan ponselnya. Tapi sebuah kertas dengan tulisan di atasnya menarik perhatian Baba, tolong aku!
SMA masa kini seperti tanah kosong tersia-sia. Bullying, bolos, depresi. Seperti harus bernafas di bawah air untuk bertahan. Dan tidak hanya untuk siswa. Guru dan orang tua pun harus meminta maaf untuk kesalahan mereka. Hanya ada sedikit harapan sekarang. Tapi jika seperti ini, kegelapan tidak akan berakhir. Bisakah siswa SMA berusia 35 tahun menemukan sesuatu?
Koizumi-sensei rupanya masih belum pulang. Baba menunjukkan kertas yang ditemukannya, berisi tulisan tolong aku itu.
Koizumi-sensei kaget, “Itu Cuma bercanda,” komentarnya.
“Bagaimana kalau ini serius? Seseorang benar-benar butuh pertolongan!” protes Baba.
Koizumi-sensei speechless sendiri dengan siswanya yang satu ini, “Baiklah. Kalau memang benar ada bullying, bisa kau cari tahu siapa itu?”
“Itu pekerjaanmu!” ujar Baba.
“Kau kan siswa. Hal seperti ini bisa dilakukan oleh sesama siswa,” elak Koizumi-sensei.
Baba menghela nafas, “Tadi aku orang dewasa, sekarang karena aku siswa? Kau hanya membuatku melakukan semuanya.”
“Paling tidak kau harus bertanggungjawab sebagai ketua kelas.”
Baba tampak berpikir. Tapi kemudian ia mengiyakan permintaan senseinya itu.
Seorang siswa tempak menyendiri di dekat pembatas, earphone terpasang di telinganya. Ia tidak mempedulikan sekelilingnya.
Baba mendekati siswa itu, lalu melepas earphone di telinganya, “Kau Akutsu-kun kan?”
“Apa?” siswa bernama Akutsu itu kaget dan berpaling.
“Apa kau dibully? Kau selalu mendengarkan musik sendirian,” Baba berdiri bersandar di sebelah Akutsu.
“Kenapa kau tanya begitu?”
“Hmmm ... mungkin karena aku orang dewasa, siswa dan ketua kelas.”
Tapi dari arah lain tiba-tiba Koizumi-sensei datang. Ia menggandeng tangan Baba dan menyeretnya pergi.
“Hey hey hey... apa yang kau lakukan?!” protes Koizumi-sensei.
Baba heran, “Bukannya kau yang menyuruhku mencarinya?”
“Tapi perhatikan juga! Jaman sekarang berbeda. Di masamu dulu, mudah melihat orang yang dibully. Tapi sekarang, tidak bisa. Bullying berbeda sekarang dan orang tidak mudah melakukan atau merasa dibully,” Koizumi-sensei mencoba menjelaskan.
“Ah, anak sekolah jaman sekarang rumit,” keluh Baba.
“Benar. Jaman sekarang berbeda. Dan lagi, jangan berkeliaran dan bertanya pada siswa soal ini,” pinta Koizumi-sensei yang hanya bisa diiyakan Baba, meski ia sendiri tidak terlalu mengerti.
Hari berikutnya Koizumi-sensei datang ke sekolah seperti biasa. Tiba di ruang guru, rupanya sudah ramai. Tampak beberapa orang tua siswa mengerubungi kepala sekolah dan bertanya berbagai hal.
“Koizumi-sensei, ada apa ini sebenarnya?” tanya wakil kepala sekolah. Ia menunjukkan surat yang diterima orang tua siswa yang datang ke sekolah pagi itu.
Beberapa hari yang lalu ada laporan kemungkinan bullying di SMA Kunikida kelas 3A. Mohon beritahukan jika putra anda mengetahuinya. Ketua kelas 3A, Baba Ayako.
“Apa ini idemu?” tanya kepala sekolah.
“Tidak! Ini dilakukan Baba Ayako sendiri ... “ elak Koizumi-sensei masih syok.
Kehebohan pagi itu masih belum reda saat orang tua siswa yang lain datang.
“Kepala sekolah!” pria itu menunjukkan surat yang diterimanya. “Apa ini benar? Jelaskan padaku!” pinta pria itu, sementara putrinya hanya bisa terdiam berdiri di belakangnya.
Bisik-bisik muncul di antara para guru. Hanya Koizumi-sensei yang tidak tahu apa-apa.
“Siapa dia?”
“Dia ayah Yamashita Ai. Dia memiliki bimbingan belajar besar dan sangat dihormati di dunia pendidikan. Kalau ada sesuatu yang terjadi, dia selalu ikut campur.”
“Sejujurnya, aku tidak berpikir kalau sekolah ini bisa menanganinya. Mungkin lebih baik di tempatku,” ujar Yamashita-san pada kepala sekolah.
Kepala sekolah yang spechless dan tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa menunduk minta maaf di depan Yamashita-san. Menyusul guru-guru lain juga melakukan hal yang sama.
Berita mengenai surat yang terima para orang tua sampai di kelas. Pun saat beberapa orang tua siswa berdatangan ke sekolah untuk minta penjelasan. Bisik-bisik bermunculan diantara anak-anak 3A. Tapi mereka hanya bisa saling memandang dengan curiga tanpa melakukan apapun.
“Bukannya selama ini kita bersenang-senang,” ujar salah satu anak cowok tim 1.
“Kau yang paling malas,” balas temannya.
Yamashita Ai yang baru kembali dari ruang guru segera bergabung dengan anak-anak cewek tim 1 yang lain, “Ini buruk! Ayahku marah besar!”
“Aku tidak tahu kalau ada bullying. Bullying disini?” balas Kudo Mitsuki cuek yang diiyakan oleh teman-temannya tim 1 yang lain.
Koizumi-sensei menyeret Baba ke ruang konseling. Sekarang mereka hanya bertiga dengan Nagamine-sensei, “Kenapa kau melakukan itu?!”
“Kau bilang jangan tanya siswa, jadi aku tanya orang tua,” jawab Baba santai.
“Itu lebih buruk!” Koizumi-sensei tidak mengerti dengan jalan pikiran siswanya ini.
“Sudah, sudah! Sekarang kita definisikan kata bullying itu sendiri. Mungkin kita bisa tahu sesuatu,” Nagamine sensei menengahi. Ia lalu mengambil sebuah buku, “Menteri pendidikan mendefinisikannya di tahun 2006, bullying adalah proses seseorang mengalami sakit secara emosional atau lainnya, sebagai hasil dari sakit fisik atau mental.”
“Aku tidak mengerti,” ujar Baba cepat.
“Jadi, bullying terjadi hanya jika orang yang mengalaminya, merasa. Tentu, kau harus membuat siswa mengakui kalau dia dibully, tapi kalau itu terjadi, bullying sudah semakin buruk!” lanjut Nagamine-sensei.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Baba.
“Ini ... seperti sinyal SOS yang lemah,” komentar Koizumi-sensei. “Rumit menjadi anak SMA jaman sekarang. Ini salahku membiarkanmu melakukan ini. Lupakan saja untuk mencarinya,” pinta Koizumi-sensei kemudian yang diiyakan Baba tanpa protes lagi.
Baba baru kembali dari kantin untuk membeli makan siangnya. Di lorong ia bertemu Ai, yang buru-buru kembali ke kelas. Rupanya Ai datang untuk memberikan makanan untuk anak-anak cewek tim 1 yang lain. Tapi karena salah pesan, Ai terpaksa harus kembali lagi. Baba menyaksikan itu semua dalam diam.
Saat Ai akan kembali kedua kalinya, ia dicegat Baba, “Yamahita Ai-san.”
Ai berhenti, heran, “Ada apa tante?”
“Apa kau ... dibully?” Baba bertanya dengan ragu-ragu. “Kau tampak melakukan semua perintah mereka.”
Ai heran, tapi ia kemudian tertawa, “Hentikan itu! Aku hanya beli sesuatu dan membawanya kembali,” elak Ai.
“Benarkah?” Baba belum percaya.
“Mereka hanya menggodaku. Seperti inilah kami. Ini bukan bullying. Kau harus mengerti itu, tante,” ujar Ai lalu beranjak pergi meninggalkan jawaban yang tidak memuaskan bagi Baba.
Pulang sekolah, anak-anak cewek tim 1 seperti biasa berniat bersenan-senang. Mereka berencana akan pergi ke tempat karaoke.
“Aku tidak punya uang ... “ ujar Ai lirih.
“Ayolah Ai. Kalau kau tidak ikut, itu tidak akan menyenangkan. Kami juga tidak punya uang,” bujuk salah satu temannya.
“Baiklah, tidak seru kan kalau aku tidak ikut?” Ai tidak punya pilihan. Ia akhirnya setuju untuk pergi bersama mereka ke tempat karaoke. Ai tersenyum, canggung.
Hari itu Baba masih belum pulang. Ia duduk menyendiri di atap sekolah. Baba meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas. Rupanya kertas berisi tulisan tolong aku belum dibuangnya. Baba tampak berpikir, ia kemudian memantapkan hati untuk melakukan sesuatu.
Ai baru saja kembali dari membayar biaya karaoke. Ia melihat dompetnya dan terdiam sesaat sebelum masuk ke ruang karaoke. Wajahnya tampak sama sekali berbeda. Tapi Ai memantapkan hati. Ia masuk ke ruang karaoke dan menemui teman-temannya sudah dengan wajah ceria lagi. Mereka pun bersenang-senang lagi.
“Ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian,” ujar Ai kemudian. Ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, “100 hal yang ingin aku lakukan pada Baba Ayako. Aku membuat ini selama di kelas.”
Anak-anak lalu membuka-buka buku itu. banyak gambar Baba dalam berbagai pose dengan catatan-catatan tidak menyenangkan di sekitarnya. Nomer 1-menyalakan roket pada Baba Ayako. Nomer 2-mengunggah foto wajah tidurnya di internet. Mereka berempat menikmati melecehkan Baba dari buku yang dibuat Ai.
Puas berkaraoke, Ai pulang sendirian. Wajahnya sama sekali berbeda dengan saat ia bersenang-senang dengan teman-temannya tadi. Ai memandangi tangga di depannya, melamun. Entah kenapa tiba-tiba ia memutuskan sesuatu. Ai menjulurkan sebelah kakinya dan ... tiba-tiba ia sudah berguling ke bawah dan tidak sadarkan diri.
Orang-orang yang lewat merubung. Mereka segera memanggil ambulan. Tidak sengaja, saat itu rupanya Baba tengah lewat dekat TKP. Melihat kalau yang dibawa ke ambulan adalah Ai, Baba berinisiatif untuk ikut masuk ke ambulan.
“Siapa kau?” tanya petugas.
“Aku teman ... ah maksudku dari sekolahnya. Izinkan aku ikut,” pinta Baba yang diiyakan petugas itu.
Baba duduk di sebelah Ai yang tidak sadarkan diri. Ia melihat tas yang dibawa Ai, dan tertarik dengan buku yang menyembul keluar. Baba mengambil buku itu dan mulai membuka-bukanya, “Apa ini?” ujarnya heran.
Sampai di rumah sakit, rupanya luka Ai tidak terlalu parah. Setelah penanganan, Ai segera sadar dan sudah bisa duduk. Sementara menunggu ada yang menjemput, Ai duduk bersama Baba.
“Aku kaget melihatmu bersamaku! Terimakasih. Mereka mengatakan tidak ada luka yang parah. Aku kuat!” ujar Ai.
Baba mengembalikan buku yang tadi diambilnya dari tas Ai. Rupanya itu buku yang tadi ditunjukkan Ai pada teman-temannya anak-anak cewek tim 1 di tempat karaoke. 100 hal yang ingin aku lakukan pada Baba Ayako.
“Kau melihatnya?” Ai kaget. “Kau pasti berpikir kalau aku pembulying kan?”
“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa dibully,” elak Baba. “Tapi, menurutku kau berbeda ... Kau dibully kan? Itu yang aku lihat.”
“Ah kau masih saja membahas itu? Aku katakan, itu bukan bullying. Mereka hanya menggodaku,” elak Ai lagi.
Koizumi-sensei dan anak-anak lain rupanya juga tiba di rumah sakit. Mereka lega karena keadaan Ai tidak parah.
“Yamashita-san, kau tidak apa-apa kan? Kau tidak melakukannya kan?” Koizumi-sensei tampak khawatir. “Itu ada di internet. Saksi mata mengatakan kalau kau jatuh sendiri ... “
“Haha! Hentikan. Aku tidak mungkin bunuh diri kan?” elak Ai lagi dengan senyum terpaksa. Senyum yang hanya disadari oleh Baba.
Menyusul kemudian datang Yamashita-san, ayah Ai, “Salah satu siswaku mengatakan melihat berita kau jatuh di internet,” ujarnya panik.
“Ayah! Itu semua salah besar!” masih elak Ai.
“Benar! Kau tidak mungkin melakukan itu,” Yamashita-san lega.
Setelah yakin Ai bersama ayahnya, Koizumi-sensei, Baba dan anak-anak lain beranjak pamit.
Anak-anak tim satu pulang bersama. Mereka masih membahas jatuhnya Ai dari tangga.
“Nyaris saja, kalau dia punya catatan bunuh diri dan kita ada disana, mereka akan menyebut kita pembully,” ujar Kokubun Moe, cewek dengan rambut diikat ke atas.
“Jelas, kita juga tidak ingin terlibat,” balas Kudo Mizuki, leader cewek tim 1.
“Kalian keterlaluan. Kalian membuatnya membayar untuk karaoke lagi hari ini?” tanya Higashi Ren.
“Tidak! Dia yang memaksa membayarnya!” elak Hatori Rikako.
“Dia pulang dan mengambil yang dari ayahnya,” sambung Moe lagi.
“Luar biasa, dia mau melakukannya,” komentar Tsuchiya Masamitsu, leader cowok tim 1.
“Kenapa? Kita menikmatinya kan?” ujar Mizuki pula.
Mereka bertujuh meneruskan pembicaraan masih tentang Ai. Dan mereka melakukan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Jam makan siang. Kali ini Rina tidak lagi makan di toilet. Dia makan siang bersama Baba di atap sekolah.
“Yamashita Ai, aku penasaran dia seperti apa,” ujar Baba.
“Hmm ... dia tampak populer di SMA,” ujar Rina. Melihat tatapan heran Baba, ia melanjutkan, “Kami pernah satu SMP. Tapi dulu dia lebih sederhana. Aku pikir dia memaksakan diri untuk klop dengan grup itu.”
“Itu kenapa senyumnya tampak selalu terpaksa,” komentar Baba.
“Apa itu ada hubungannya dengan jatuhnya dia?” Rina penasaran.
“Mungkin.”
“Benarkah? Aku menunggu itu Baba-chan!” Rina menjadi bersemangat.
“Baba-chan?” Baba heran. “Hasegawa-san, kau benar-benar berubah,” komentar Baba yang hanya disambut senyum Rina.
Seperti biasa, anak-anak cewek tim 1 pulang sekolah dan berniat untuk bersenang-senang. Mizuki, Rikako, Yuna, Moe dan tidak ketinggalan Ai. Tampak Ai yang berusaha melontarkan joke untuk membuat teman-temannya senang. Rina yang melihat hal itu berinisiatif untuk mengikuti mereka.
Mereka tiba di cafe yang ada di dekat taman. Dan seperti biasa, mereka membuat Ai melakukan apa yang mereka minta. Mengambil makanan dan minuman pesana mereka. Rina masih saja mengikuti mereka. Ia tidak sengaja mendengar saat Mizuki, Moe, Yuna dan Rikako berniat membuat Ai melakukan sesuatu sebagai perayaan pulihnya Ai.
Rina yang tahu hal itu segera menghubungi Baba. Ia menceritakan semua yang ia lihat dan ia dengar pada Baba.
“Dia akan mencuri?” tanya Baba dari seberang.
“Benar. Mereka bilang akan menggunakan uangnya untuk pesta Ai! Ini buruk!” ujar Rina.
Anak-anak tim 1 datang ke sebuah tempat pelayanan umum. Sementara Ai mendekati tempat duduk antrian, teman-temannya yang lain melihat dari jauh. Di tempat lain, Rina masih saja mengikuti mereka. Seorang wanita di dekat Ai menerima telepon, dan ia beranjak menjauh meninggalkan tasnya di kursi. Melihat ada kesempatan itu, Ai mendekat dan berniat mengambil tas si wanita tadi. Baru saja Ai akan lolos, tiba-tiba seseorang menahannya.
“Kau tahu yang kau lakukan?!” bentak Baba berusaha merebut tas di tangan Ai.
“Lepaskan! Lepaskan aku!” melihat Baba yang bersikeras merebut tas ditangannya, Ai akhirnya menyerah dan beranjak pergi.
Baba melihat tas itu. Ia lalu mencari tanda pengenal di tas itu dan menelepon si pemilik tas dari tanda pengenal itu.
“Hei! Itu milikku!” suara seorang wanita tiba-tiba merebut tas di tangan Baba. “Pencuri!”
Karena laporan pencurian tas tadi, Baba akhirnya dibawa ke kantor polisi. Rina yang bersamanya juga ikut. Menyusul Koizumi-sensei yang dihubungi oleh kepolisian juga.
Polisi yang menangani kasus itu heran melihat Baba, “Kau memakai itu (seragam) untuk bersenang-senang?”
“Tidak.”
“Ah,” polisi itu spechless sendiri. “Kau tahu yang kau lakukan?”
“Ayolah. Kau selalu saja buat masalah!” keluh Koizumi-sensei.
“Aku tidak melakukannya ... “ elak Baba.
“Baba-san bukan pencuri,” sambung Rina tidak tahan diam saja.
“Tapi banyak orang melihatnya,” elak polisi lagi.
“Ada alasan untuk itu,” ujar Rina ragu. Tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Aku harus menulis surat permohonan maaf juga. Ah ... si tante ini selalu buat masalah,” keluh Koizumi-sensei lagi.
Ai akhirnya bergabung dengan teman-temannya lagi. Mereka lolos dari masalah kali ini.
“Kau tahu, kau gagal karena lambat,” ujar Moe pada Ai.
“Ya, sepertinya begitu ... “Ai memaksakan tersenyum.
“Jangan bercanda! Kau menyebalkan,” ujar Rikako. “Kalau kau pikir itu buruk, tidak usah lakukan. Tapi, kami tidak pernah mengatakan kalau ingin ... “ Rikako melirik pada toko lain tidak jauh darisana.
Masalah Baba belum selesai saat polisi membawa Ai ke tempat mereka. Baba dan Koizumi-sensei kaget melihat Ai yang ditangkap karena mengutil.
“Kenapa kau melakukan itu (mengutil-mencuri barang di toko)? Bahkan itu pakaian lelaki. Kau tidak memerlukannya,” komentar polisi.
“Aku berbuat salah,” aku Ai.
Yamashita-san, ayah Ai rupanya juga dihubungi polisi dan datang kesana. Melihat ayahnya datang, Ai berdiri. Tapi Yamashita-san tanpa ragu-ragu malah menampar putrinya itu, “Kau tahu apa yang kau lakukan?! Aku memberikanmu cukup uang! Apa yang kau pikirkan?!”
“Um ... sebelum menampar, bisakah anda bicara saja dulu,” sela Baba karena kaget dengan sikap tiba-tiba Yamashida-san.
“Jangan ikut campur! Diam!” bentak Yamashita-san.
“Harus! Aku teman sekelasnya!” balas Baba yang langsung ditarik oleh Koizumi-sensei dan polisi untuk menjauh dan tidak ikut campur urusan ayah-anak ini.
Tapi Yamashita mengabaikannya, “Kau merusak namaku sebagai pendidik. Memiliki siswa seperti ini ... orang tua siswa akan menertawakanku! Jangan pernah lakukan ini lagi!” bentaknya lagi pada Ai.
Panggilan telepon membuat Koizumi-sensei keluar dari ruangan itu. Pun polisi meminta Yamashita-san untuk mengisi beberapa form. Tinggalah Ai dan Baba di ruangan itu.
Ai kembali duduk di kursinya, “Ayahku gila kan? Bahkan saat dia marah ... “ Ai menertawakan dirinya sendiri.
“Tidak usah mengatakan joke sekarang!” ujar Baba.
“Inilah aku!” elak Ai. “Ini cara termudah. Kau tahu, seperti badut? Aku suka membuat orang-orang sekitarku bahagia. Itu yang orang pikirkan tentang aku.”
“Ah ... anak sekolah sekarang rumit,” keluh Baba.
Rupanya Koizumi-sensei menerima telepon dari kepala sekolah. Sekolah sudah tahu soal kejadian yang menimpa Ai dan Baba ini. Selesai menutup telepon, Koizumi-sensei bertemu Yamashita-san dan Ai. Sekolah menskors Ai selama tiga hari karena insiden ini.
“Aku mengerti. Aku ingin meminta sesuatu,” ujar Yamashita-san kemudian.
“Apa itu?”
“Bisa aku minta waktu besok? Aku ingin memastikan kalau Ai tidak menjadi pengaruh buruk bagi teman-temannya. Kami akan minta maaf karena insiden ini,” pinta Yamashita-san.
“Ayah, kau tidak perlu ... “ ucapan Ai terpotong.
“Aku tidak minta pendapatmu!” bentak Yamashita-san pada putrinya. “Jangan bersikap sok tahu!”
“Baiklah, aku akan memberi anda waktu besok,” jawab Koizumi-sensei.
Yamashita-san dan Ai pun pamit pulang.
Menyusul kemudian Baba yang keluar dari ruang interogasi.
“Mereka melepaskanmu?” tanya Koizumi-sensei heran.
“Iya, sekarang. Mereka melihat cctv. Mereka melihatku menelepon pemilik tas. Mereka bilang aneh kalau pencuri melakukan itu,” ujar Baba.
“Jika sekolah tahu, mungkin mereka hanya akan menskors-mu.”
“Tapi aku ... “ ucapan Baba terpotong.
“Sampai mereka mengatakan tidak ada yang terjadi, atau mungkin kau akan dikelurkan!” sambung Koizumi-sensei.
Baba pulan ke tempatnya. Ia menelepon pengawas pendidikan Asada-sensei.
“Aku diskors. Maaf,” cerita Baba dari seberang telepon.
“Sesuatu terjadi? Meski kau mengatakan sesuatu, tidak ada yang akan terjadi. Itu yang kau pikirkan? Bukankah yang terburuk tidak mengatakan sesuatu? Atau bahkan membuat situasi dimana kau tidak bisa mengatakan apapun? Yang mana? Kau tahu yang kau lakukan?!” ujar Asada-sensei.
Baba terdiam memikirkan ucapan Asada-sensei itu. Ia memikirkan lagi apa yang sudah diucapkan Ai dan apa saja yang selama ini ia lihat.
Hari berikutnya ... Yamashita-san benar-benar datang ke sekolah, kelas 3A. Koizumi-sensei pun memberikan waktu untuknya bicara. Tapi belum sempat mulai, Baba datang memotong.
“Aku belum melaporkan hasilnya padamu, sensei. Aku bertanggungjawab sebagai ketua kelas,” Baba mengeluarkan kertas bertuliskan tolong aku dari kotak pendapat sebelumnya. “Yamashita Ai-san, ini kau kan? Kau yang mengatakan tolong aku, benar kan?”
Ai jelas mengelak. Tapi Baba punya jawaban lain. Dia mengatakan kalau punya bukti. Dengan metode sederhana tepung dan selotip, ia mendapatkan sidik jari yang ternyata sama, antara kertas itu dan buku milik Ai. Bukti yang ditertawakan anak-anak tim 1 di kelas. Tapi Baba mengabaikan mereka.
Baba juga menunjukkan video saat Ai mencuri hari sebelumnya. Tampak Ai mencuri baju di sebuah toko yang ramai padahal di dekatnya ada si penjaga toko yang tengah mengawasi, “Ini seperti dia justru ingin ditangkap karena mengutil.” Baba melanjutkan kalimatnya. “Kau sebenarnya tidak ingin melakukannya kan? Yamashita Ai-san, kau populer huh? Kau ceria dan suka membuat orang lain bahagia? Itu badut? Itu yang kau katakan? Kalau begitu itu benar. Semua hanya akan seperti ini. benar? Yamashita Ai-san, apa kau dibully?”
Kalimat terakhir Baba membuat Yamashita-san, ayah Ai kaget. Ia melihat sekeliling kelas dan meminta mereka mengaku siapa yang membully putrinya itu.
“Aku tahu siapa itu,” ujar Baba. Di belakang tampak anak-anak tim 1 mulai panik.
“Siapa?”
“Anda,” ujar Baba yakin.
“Jangan bercanda!” elak Yamashita-san.
“Definisi bullying, cepat!” pinta Baba pada Koizumi-sensei. Yang dijawabnya dengan definisi bullying versi persis seperti yang diceritakan Nagamine-sensei di ruang konseling.
“Itu yang anda lakukan,” ujar Baba pada Yamashita-san. “Anda mengatakannya, Yamashita-san tidak mungkin kau bunuh diri, di rumah sakit. Kau menohoknya tanpa memikirkan perasaannya. Kau bahkan tidak bertanya kenapa dia mengutil di toko. Kau bahkan tidak pernah mencoba mengertinya. Kau adalah contoh sempurna bullying!” jawaban Baba membuat heran seisi kelas, pun tidak ketinggalan Ai dan Koizumi-sensei.
“Cukup!” Yamashita-san tidak terima. “Kau hanya mempermainkan kata. Aku yang paling mengerti apa yang terbaik baginya!”
“Kau tahu sikapmu yang memojokkannya?” lanjut Baba lagi. “Tidak ada yang membicarakan bullying lagi! Tidak teman, guru atau orang tua. Ini hanya hanya lebih buruk jika membicarakannya! Jadi mereka yang dibully hanya bisa berbohong dan mengatakan tidak dibully. Ini hanya menggoda/mengerjai. Mereka tersenyum terpaksa. Kita hanya menyemangati mereka. Mungkin saat kau menyadarinya, semuanya sudah menjadi lebih buruk. Tidakkah kau yang harusnya dekat dengannya?”
Yamashita-san terdiam mendengar monolog Baba. Pun Ai yang hanya bisa menangis di sebelahnya.
Ai akhirnya angkat bicara, “Aku ... dibully selama ini. Tapi ... tidak apa-apa.”
Skorsing Ai sudah berakhir. Ia kembali berangkat sekolah. Tapi kali ini Ai datang dengan penampilan sangat berbeda.
Anak-anak cowok tim 1 yang melihat Ai di koridor heran, “Dia Ai? Mungkinkah dia ... dopplegangers!”
Ai tiba di kelas dan duduk di kursinya seperti biasa. Tidak hanya anak-anak di koridor, anak-anak di kelas juga heran melihat penampilan Ai sekarang. Tidak ketinggalan anak-anak cewek tim 1 yang berkumpul tepat di belakang meja Ai.
“Oh wow. Skorsing membuat orang berubah. Tidak terlihat baik sama sekali,” ujar Moe.
“Lucu,” balas Rikako.
“Siapa yang kita bicarakan?” cibir Mizuki.
“Ai ... siapa dia?” mereka rupanya sudah membuang Ai dari tim 1.
Hanya Hasegawa Rina yang memandang Ai tidak dengan tatapan heran. Ia merasa kembali melihat Yamashita Ai yang pernah dikenalnya selama SMP dulu.
Koizumi-sensei seperti biasa datang ke ruang konseling. Apalagi kalau tidak untuk curhat pada Nagamine-sensei.
“Akhirnya, Yamashita Ai tidak mau mengatakan siapa yang membully-nya,” ujar Koizumi-sensei.
“Tidak apa-apa kan?” balas Nagamine-sensei. “Dia mendapatkan semuanya. Tidak ada gunanya memaksanya. Tapi aku pikir dia membuka matanya.
“Tentang apa?” Koizumi-sensei heran.
“Apa yan dilakukan Baba Ayako. Tujuannya bukan untuk menghilangkan bullying di sekolah, tapi untuk membuat orang tua sadar akan tanggungjawabnya. Itu bukan pendapat keren. Itu akan lebih mudah bagi guru juga. Mungkin orang tua tahu soal bullying yang bahkan tidak disadari oleh guru.” (wow ... kalimatnya Nagamine-sensei keren)
Dan kasus Baba Ayako pun selesai. Ia dibebaskan dari tuduhan mencuri tas karena tidak terbukti bersalah.
Baba seperti biasa makan siang bersama Rina di atap sekolah. (emang ga panas ya?). Tapi kali ini ada satu lagi yang bergabung, Yamashita Ai.
“Aku belikan jus,” Ai menyodorkan jus pada Baba dan Rina.
“Aku pikir kau sudah berhenti melakukan ini,” komentar Bab.
“Apa? Aku kan hanya ingin berbuat baik,” elak Ai. Ia duduk di sebelah Baba yang bergeser dan memberikannya ruang.
“Kau lebih baik seperti ini, tanpa make-up,” komentar Baba lagi.
“Mendengar itu, menyenangkan,” balas Ai. “Terimakasih. Aku tidak pernah bilang terimakasih. Ayahku juga akhirnya minta maaf. Mendengar hal itu dari orang keras kepala, benar-benar mengagetkanku. Aku lega. Tapi soal sidik jari itu luar biasa.”
Baba tersipu. Ia akhirnya jujur dan mengatakan kalau itu palsu. Karena berkali-kali mencoba ternyata mengambil sidik jari dengan tepung dan selotip itu sulit. Tapi baik Rina maupun Ai tidak marah.
“Ada yang ingin aku katakan. Itu bukan bunuh diri. Saat di atas tangga, aku berpikir kalau mungkin baik kalau aku mati ... tapi sebenarnya aku didorong. Aku tidak tahu siapa,” aku Ai.
Ai, Baba dan Rina tidak pernah tahu. Tidak jauh dari tempat mereka sekang, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dan merekam semua pembicaraan mereka.
Baba kembali ke ruangannya yang gelap dan pengap. Berbeda dengan di sekolah, Baba tampak berantakan.
Asada-sensei muncul, “Apa kau baik-baik saja?”

Kelana’s comment:
Akhirnya episode 2 kelar juga. Gomene minna-san, ud kelamaan nunggu ya #deep bow. Kelana habis pulkam, merefresh otak sejenak, jadi harus mengembalikan mood nulis lagi, hehe.
Mulai keliatan ya, inti ceritanya. Untuk meluruskan bullying. Episode 2 ini Baba sudah mempunyai dua teman. Mungkinkah dia akan punya teman lagi? Yang menarik adalah saat Asada-sensei meyakinkan Baba untuk bicara yang sebenarnya. Yup, kadang tanpa sadar bullying terjadi juga di sekitar kita. Tapi tidak semua orang menyadarinya. Bahkan siswa yang dibully sendiri belum tentu merasa. Kadang dengan seenaknya menghina atau mengatakan kata-kata menyakitkan pada teman-teman, tanpa sadar kita sudah menyakiti teman itu. huaaaa ... gomene, temen2 yg pernah tersakiti sm Kelana. Dan lagi, tanggung jawab guru dan orang tua. Kelana blon jadi orang tua, jdi mungkin blon tahu. Tapi kadang saat melihat anak-anak di kelas, Kelana juga berpikir, “mungkinkah ada dari mereka yang dibully disini?” ah ... kalau saja Kelana bisa punya kekuatan buat menguak bullying yang terjadi sama anak2 di kelas, huhuhu ...
Inilah nilai plus serial satu ini. Meski tidak menemukan banyak kelucuan, tapi ada banyak hikmah yang bisa diambil. Tertohok rasanya jadi guru, lalu suatu saat nanti jadi orang tua. Masa jadi siswa mungkin sudah lewat. Bahkan dulu Kelana jg ga sadar, apa Kelana termasuk yang dibully atau yang membully.
Picture and written by Kelana

SYNOPSIS: 35 sai no Koukousei episode 02 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Elang Kelana

6 comments:

  1. nice comment's. i agree with u

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. ok deh
      salam kenal balik
      trims ud mampir2 k blog ini ^_^

      Delete
  3. thankyou sinopsisnya,
    sedang mencoba menyukai dorama, gara2 LIT :D
    dan sekarang lagi cari2 sinopsis2 dorama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2
      sangkyuuu jg ud mampir blog ini
      salam kenal ^_^

      Delete

Thank 4 you're comment ^_^

About Me

My Photo

My nick-name is Elang Kelana, my real name is Bening. It'll be ok, just call me Kelana. I'm a blogger. I wrote about myself or about japanese on my blog. I love Japanese and Korean music, movie and drama. This is my blog, www.elangkelana.com

Google+