Drama Jepang, Movie Jepang, Sinopsis Drama Jepang, Review, Fan Fiction, NEWS

Wednesday, May 09, 2012

SYNOPSIS: Hidarime Tantei Eye Sp part 2 - ending


The synopsis and screen caps below are originally made by Kelana. If you want to copy/repost at another site/blog, please FULL CREDIT. Happy reading, check it out . . . ^_^V
Bagian sebelumnya …
Ainosuke mengatakan pada Hitomi-sensei bahwa ia menyerah. Tapi ternyata itu hanya akal-akalan Ainosuke untuk tidak lagi melibatkan sensei-nya itu ke dalam keadaan yang mungkin lebih berbahaya.
Ainosuke datang ke bank terakhir. Ia minta untuk bertemu dengan manajer bank. Di tempat lain, sekelompok orang bertopeng binatang keluar dari mobil sambil membawa senjata.
“Ini perampokkan. Semuanya berkumpul di tengah!” teriak sang perampok setelah masuk ke dalam bank sambil mengacungkan senjata.
Orang-orang yang kaget langsung berkumpul di tengah ruangan. Tidak ketinggalan Ainosuke yang juga berada disana. Belum sempat Ainosuke memberitahukan manajer tentang apa yang akan terjadi, perampokkan itu malah sudah berlangsung. Ainosuke memandang wajah perampok-perampok dengan tatapan kesal penuh amarah.
Sementara itu, di kantor polisi Ohuchi-san dan Kato-san masih saja meributkan tempat tinggal Ohuchi-san yang berdekatan dengan pusat penelitian virus nasional. Meski murah, Kato-san berpendapat kalau itu tetap berbahaya, hidup dibawah bayang-bayang virus mematikan yang setiap saat siap menyerang.
Tiba-tiba alarm merah berbunyi. Laporan terjadi perampokkan di sebuah bank di tengah kota. Ohuchi-san dan Kato-san bersama polisi yang lain lalu bergegas bersiap menuju TKP.
Hitomi-sensei dengan rasa keadilan yang tinggi ternyata juga menyusul ke bank yang dituju oleh Ainosuke. Dia tiba saat si perampok mulai menjalankan aksinya dan menutup gerbang bank. Hitomo-sensei berhasil masuk melalui pintu lain yang tidak diketahui si perampok. Melihat situasi tidak menguntungkan, Hitomi-sensei memilih bersembunyi. Akhirnya ia menemukan Ainosuke ada diantara para sandera.
Ainosuke merasakan mata kirinya berdenyut, tapi ia tidak melihat apapun. Akhirnya dengan sedikit kenekatan, Ainosuke menantang si perampok.
“Hei, hentikan ulah bodoh ini!” gertak Ainosuke sambil berdiri.
“Apa urusanmu hei bocah!” si perampok memukul Ainosuke hingga terjatuh.
Akibat pukulan ini, Ainosuke kembali mendapatkan penglihatan di mata kirinya. Tampak tanda panah samar dengan tulisan “brangkas” di atasnya, nomer sebuah brangkas dan sekelompok nomer. Si perampok juga ternyata menodong manajer untuk membawa mereka ke brangkas milik bank itu.
Hitomi-sensei berusaha menarik perhatian Ainosuke. Berkali-kali ia memanggil Ainosuke yang tengah duduk berkumpul dengan sandera yang lain. Mengetahui sensei-nya ada disini, Ainosuke bukannya senang. Ia kesal karena ulah sembrono senseinya ini. Akhirnya Ainosuke mendapatkan ide untuk mengalihkan perhatian si perampok.
“Buang sesuatu!” pinta Ainosuke dengan bahasa bibir pada senseinya.
Hitomi-sensei butuh waktu lama untuk mengerti permintaan Ainosuke ini. Ketika akhirnya paham apa yang dimaksud Ainosuke ini, Hitomi-sensei malah bingung apa yang mesti ia buang. Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, Hitomi-sensei melepas jam mahal di tangannya dan membuangnya ke tempat teller di belakang perampok.
Suara berisik itu mengalihkan perhatian si perampok. Untungnya mereka tidak memergoki keberadaan Hitomi-sensei. Memanfaatkan situasi itu, Ainosuke berjalan menyingkir. Ia masuk ke lorong dengan penunjuk jalan bertuliskan “brangkas”.
Sampai di brangkas yang dimaksud, ternyata sudah ada orang bertopeng disana. Pelan tapi pasti, Ainosuke mengambil sebuah benda berat dan memukul kepala si orang bertopeng. Di depannya, kode pin brangkas baru dimasukkan sebagian. Mempergunakan ingatannya, Ainosuke memasukkan kode lanjutannya dan membuka brangkas itu. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah kartu warna putih.
“Serahkan benda itu!” perampok bertopeng lain tiba-tiba sudah ada di belakang Ainosuke dengan senjata tertodong.
“Apa yang kalian lakukan pada kakakku? Kenapa kalian membunuh kakakku? Aku tidak akan memberikan benda ini sampai kalian mengatakan apa yang sudah kalian lakukan pada kakakku!” gertak Ainosuke.
“Baiklah, kalau itu maumu,” si perampok bertopeng lalu memukul tengkuk Ainosuke. Ia mengambil kartu di tangan Ainosuke dan membangunkan temannya yang tadi pingsan. Mereka berdua lalu beranjak pergi.
Akibat pukulan itu, Ainosuke seperti biasa kembali mendapatkan penglihatan di mata kirinya. Sebuah gedung yang asing, tulisan “virus mematikan”, dan wajah seorang wanita berkacamata. Ainosuke tidak mengerti apa yang ia lihat. Semuanya gelap, hingga Ainosuke benar-benar pingsan.
Polisi sudah datang di depan bank. Mereka datang lengkap dengan tim sergap. Ohuchi-san dan Kato-san juga bersiap di samping mobil mereka.
“Aku pasti bisa melakukan ini,” ucap Ohuchi-san meyakinkan diri.
Sementara itu dari arah bank, muncul si perampok bertopeng sambil membawa sandera. Ia menodongkan senjatanya pada para sandera yang ketakutan.
“Tunggu dulu. Beri waktu sebentara lagi, atau kalau tidak . . . mereka akan mati!” ancam si perampok bertopeng sambil melepaskan tembakan ke udara.
Di dalam, perampok ternyata sudah berhasil membobol brankas bank dan membawa sejumlah uang.
“Dengarkan semua, kami akan memberikan uang ini pada kalian. Masing-masing mendapat bagian. Setelah ini, keluarlah sambil berlari dan melempar uang itu ke atas. Jelas! Kalau kalian tidak mematuhi perintah kami, kalian akan mati!” gertak si perampok.
Melihat pembagian uang, Hitomi-sensei langsung ijo. Bukannya melarikan diri, doski malah bergabung bersam para sandera menunggu pembagian uang.
“Bisakah aku minta satu bagian lagi? Aku punya seorang putri di rumah,” pinta Hitomi-sensei.
“Diam berisik!” si perampok mengacuhkan permintaan Hitomi-sensei.
Ternyata pembagian uang itu hanyalah kamuflase. Karena tujuan sebenarnya adalah memberikan kartu putih yang tadi diambil dari brangkas pada salah seorang komplotan mereka yang berpura-pura menjadi sandera.
“Sekarang, mulai!” perintah si perampok.
Bergerombol, sandera keluar dari bank dengan tangan teracung dan uang yang berhamburan. Kontan ini membuat polisi bingung. Mereka tidak bisa mengenali yang mana yang sandera, mana yang perampok asli.
Sementara si perampok asli rupanya juga sudah menyiapkan uang bagian mereka. Mereka melepas baju dan topeng, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah mengambil uang bagiannya yang sudah disiapkan, mereka kemudian bergabung dengan para sandera keluar dari bank. (trik perampok bank model gini kq mirip ya sama yang di detective Conan? Ad yg ngerasa ga, hehehehe)
Nah sekarang giliran sensei kita yang beraksi. Bukannya ikut keluar bersama pada sandera yang lain, Hitomi-sensei malah menyusup masuk. Ia mencari Ainosuke di bank itu. Betapa terkejutnya Hitomi-sensei menemukan siswanya itu terkapar dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Ainosuke! Kau tidak apa-apa?” Hitomi-sensei membantu Ainosuke untuk bangun.
Keluar dari bank, tampak seorang wanita yang merupakan salah satu sandera tadi berjalan sendirian. Ia menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari bank itu. Sesaat kemudian ia sudah masuk ke mobil.
“Bagaimana?” Tanya seorang lelaki yang telah ada di mobil itu.
Si wanita lalu mengeluarkan kartu warna putih yang tadi diambil oleh si perampok dari brangkas bank sambil tersenyum. Owh, rupanya perampokkan tadi hanyalah kamuflase untuk mendapatkan kartu ini tanpa menimbulkan kecurigaan orang umum.
Ainosuke dan Hitomi-sensei akhirnya berhasil diselamatkan oleh pihak kepolisian. Entah bagaimana ceritanya, Ainosuke sempat membuat sketsa dari penglihatannya ketika terjadi perampokkan tadi. Ainosuke menunjukkan gambar itu pada Ohuchi-san.
“Ini, bangunan ini ada di dekat tempat tinggalku!” seru Ohuchi-san.
“Itu bagaimana menjelaskannya ya . . . jadi anak ini memiliki penglihatan tentang apa yang akan terjadi, termasuk peristiwa perampokkan ini,” Hitomi-sensei mencoba menjelaskan.
Ohuchi-san tiba-tiba mendapatkan telepon dari atasannya. Karena berada di tempat kejadian, Ainosuke dan Hitomi-sensei dijadikan tersangka kasus perampokkan ini. Keduanya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Ainosuke berusaha meyakinkan Ohuchi-san kalau gedung itu berkaitan dengan kasus yang akan terjadi setelahnya.
Di kantor polisi, tidak sengaja Hitomi-sensei melihat papan peringatan di depan sebuah pintu, “dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan”. Tapi dasar Hitomi-sensei, sekali dilarang, doski malah semakin menjadi. Tangannya perlahan terjulur, dan pintu itu pun terbuka.
Ainosuke yang sadar dengan kebiasaan sensei-nya itu mencoba mencegah, tapi terlambat. Sebuah ruangan tampak disana dengan laptop bergambar ayam dan babi di atasnya. Ainosuke teringat dengan penglihatannya tadi.
Ainosuke diperiksa secara terpisah dengan Hitomi-sensei. Jika Ainosuke bersama Ohuchi-san, maka Hitomi-sensei bersama Kato-san.
“Sekarang, ceritakan apa saja yang kau ketahui dan kenapa kau ada di tempat kejadian perkara,” pinta Ohuchi-san.
“Laptop itu milik siapa?” Tanya Ainosuke ingin tahu.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu,” elak Ohuchi-san. “Sekarang jawab saja pertanyaanku.”
“Kalau laptop itu berada disana, dengan banyak polisi dan ahli computer yang berusaha membukanya, pasti laptop itu milik salah satu pimpinan kelompok teroris itu,” pancing Ainosuke.
“Sudah kukatakan aku tidak bisa membicarakan ini denganmu,” Ohuchi-san menurunkan suaranya, mulai terpancing, “Sebenarnya aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Sudah sudah, sekarang ceritakan tentang dirimu!” pinta Ohuchi-san lagi.
Tiba-tiba Kato-san masuk, “Ohuchi-san, gawat! Apa yang dikatakan anak ini benar terjadi!”
Di sebuah tempat, tampak seseorang dengan sarung tangan memasukkan kartu putih di panel yang ada di dinding. Tangan itu lalu memasukkan kombinasi nomer. Tidak lama setelahnya pintu yang ada di belakang panel itu terbuka. Tangan itu lalu mengeluarkan sebuah koper yang tertutup rapat.
Televisi menunjukkan siaran langsung penyanderaan yang dilakukan teroris terhadap pimpinan pusat penelitian virus nasional. Ainosuke, Hitomi-sensei, Ohuchi-san dan Kato-san bersama polisi yang lain melihatnya dari televisi yang ada di kantor polisi. Di luar, banyak juga masyakarat lain yang menontonnya secara live.
Si teroris mengaku kalau mereka memiliki virus mematikan di tangannya sekarang. Mereka meminta pihak pemerintah mengabulkan permintaan mereka dengan sejumlah uang yang ditukar dengan virus itu. Si teroris memberikan waktu lima menit. Ancaman mereka ini diperkuat pernyataan kepala pusat penelitian virus nasional yang menyatakan kalau virus ini asli.
“Itu . . . “ Ainosuke tertegun melihat sikap si teroris.
“Ada apa Ainosuke?” Hitomi-sensei heran.
“Ah tidak, tidak mungkin,” elak Ainosuke kemudian.
Di kantor polisi, Ohuchi-san meminta Hitomi-sensei dan Ainosuke untuk segera mengungsi. Sementara ia bersama polisi yang lain bertahan untuk mengamankan keadaan.
Tadinya Ainosuke tidak mau mengungsi, tapi Hitomi-sensei terus membujuknya.
“Baiklah, aku akan ikut mengungsi, tapi aku punya syarat,” Ainosuke lalu membisikkan sesuatu pada Ohuchi-san.
“Tidak mungkin!” Ohuchi-san tidak menyetujui permintaan Ainosuke.
“Ayolah detektif, aku mohon,” pinta Ainosuke lagi.
“Baiklah, aku percaya padamu,” Ohuchi-san lalu membisikkan sesuatu di telinga Ainosuke.
Ainosuke kembali bersama Hitomi-sensei. Mata kirinya kembali berdenyut. Ainosuke lalu meminta Hitomi-sensei untuk memukulnya.
“Tidak mungkin! Lagipula ini di kantor polisi,” elak Hitomi-sensei.
“Ayolah! Kita tidak punya banyak waktu!” bujuk Ainosuke.
Hitomi-sensei akhirnya mengalah, “Sebenarnya, sangat disayangkan memiliki siswa yang membanggakan seperti dirimu,” lalu brukk. Hitomi-sensei memukul Ainosuke.
Akibat pukulan tadi, Ainosuke kembali mendapatkan penglihatan di mata kirinya. Slide-slide peristiwa muncul, begitu juga beberapa wajah.
Waktu yang lima menit diberikan si teroris telah habis. Mereka kesal karena pemerintah tidak mengabulkan permintaan mereka. Akhirnya tanpa ragu-ragu si teroris menjatuhkan kotak kaca berisi virus itu.
“Aku tidak takut mati, hahahaha” ucap si teroris lagi.
Perlahan kotak kaca itu melayang jatuh dan akhirnya pecah di lantai. Reporter yang berada disana bersiap berlari, tapi ia masih sempat meninggalkan kameranya masih dalam keadaan live untuk merekam kejadian yang berlangsung.
Melihat kejadian itu, seisi kota panic. Banyak kehebohan terjadi. Orang-orang berlarian meninggalkan tempat mereka untuk menyelematkan diri. Semua tempat, semua jalan perlahan berubah menjadi sepi. Tidak terkecuali kantor polisi yang telah ditinggalkan para penghuninya.
Ow ow  . . . rupanya keadaan yang kosong melompong ini dimanfaatkan oleh si teroris untuk menyusup masuk ke kantor polisi. Ternyata tujuan utama mereka adalah laptop milik si crime planner yang berada di kantor polisi.
Si teroris masuk dengan santai ke kantor polisi. Segera ia menuju ruang tempat laptop ayam dan babi itu berada. Dengan senjata di tangan, ia memutuskan rantai pengikat, tanpa menyadari masih ada satu orang lagi yang tinggal disana.
“Kenapa? Kenapa kau lakukan semua ini? Kau kakakku kan?” tegur Ainosuke pada si teroris.
Si teroris tersenyum. Ia lalu meraba lehernya dan mulai membuka topeng wajah yang digunakannya. Tampak sebuah wajah lain disana, wajah yang tidak asing bagi Ainosuke. Wajah milik orang yang seharusnya sudah mati, Tanaka Yumehito.
“Kenapa kau masih disini huh? Kenapa kau tidak pergi seperti yang lain?” Tanya Yumehito balik.
“Karena aku tahu, kau pasti mengincar laptop itu kan. Tujuanmu yang sebenarnya hanya ingin masuk dengan leluasa ke kantor polisi ini, iya kan?” tembak Ainosuke.
“Padahal aku sudah menyiapkan topeng special ini untukmu, huh?”
“Tadi kau berbicara di pusat penelitian virus, wajahmu mungkin berbeda. Tapi tidak dengan tanganmu,” jawab Ainosuke masih mencoba tenang.
“Tanganku?”
Ainosuke lalu memperagakan tangan tiga jari yang biasa dilakukan oleh kakakny, Yumehito. Sekarang Yumehito mengerti.
“Ah, itu. Pasti aku melakukannya tadi.”
“Kau bukan tipeorang yang akan melakukan bunuh diri, jadi hanya tinggal satu pilihan. Kapsul itu palsu,” ujar Ainosuke lagi.
“Benar sekali. Tapi toh orang-orang itu pergi juga, mereka mudah saja dibodohi,” cibir Yumehito.
“Selama ini aku selalu berpikir, siapa yang telah tega membunuh kakakku. Aku berkeras untuk mencari tahu semuanya. Kesedihan ini, kesedihan ditinggalkan oleh kakakku, apa kau tahu . . . siapa yang sudah membuat semua ini?!” Ainosuke mulai tidak sabar.
“Lebih baik kau menanggung kesedihan itu. Daripada kau tahu kalau kakakmu sendiri adalah seorang perampok dan pembunuh,” ujar Yumehito santai.
“Pembunuh?”
“Oh ya, orang yang kau perabukan dulu itu adalah asistenku, Yamada. Di mencoba menghianatiku, jadi aku membunuhnya.”
Kembali ke peristiwa sebelum meledaknya lab tempat Yumehito meledak. Seseorang yang mengaku bernama hitman masuk dan membawa jasad asisten Yumehito, Yamada. Dengan sedikit kamuflase, mereka kemudian membuat seolah-olah telah terjadi kecelakaan di laboratorium itu. Sementara Yumehito sendiri sudah pergi dari sana.
“Kau pembunuh? Bohong . . . kau pasti dipaksa melakukannya oleh orang jahat. Mereka pasti yang memaksamu untuk terlibat kan?” Ainosuke tidak percaya dengan pengakuan kakaknya itu. “Selama ini aku membanggakanmu sebagai kakakku. Kakak yang selalu melindungi dan menyayangiku. Kakak yang selalu melakukan yang terbaik untukku . . . “
“Karena itulah. Aku seorang saintis, yang belum akan mempercayainya sebelum mencobanya sendiri.”
“Mencobanya sendiri?” Ainosuke bingung.
“Mata kiri yang aku donorkan padamu. Aku membagi penglihatanku denganmu, supaya ada perbedaan. Tapi ternyata tidak ada bedanya sama sekali. Kau tahu, ahli matematika dari India, Srinivasa Ramanujan. Dia bilang, Tuhan yang mengajarkan dia tentang matematika. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Oya, isi laptop ini banyak rencana kejahatan. Rencana kejahatan yang sempurna,” ujar Yumehito.
“Hentikan ini!” pinta Ainosuke lagi.
“Kenapa, kau mau membunuhku?” Yumehito lalu menodongkan senjata ke kening adiknya itu. “Aku tidak akan segan untuk membunuhmu, adik kecil,” Yumehito lalu beranjak pergi sambil menenteng laptopnya dengan senang.
Ainosuke memperhatikan dari teras kantor polisi ketika sebuah mobil melintas. Yumehito masuk ke mobil itu dan beranjak pergi.
“Aku akan menghentikan semua perbuatanmu itu, tidak peduli bagaimanapun caranya. Karena aku memiliki mata kiri ini,” tekad Ainosuke dalam hati.
Yumehito naik mobil bersama gerombolannya yang lain. Ia lalu membuka laptop yang tadi dibawanya. Tidak lama kemudian, ia tersenyum.
“Kenapa?” Tanya wanita di sebelahnya.
“Anak itu benar-benar. Laptop ini palsu,” ucapnya kemudian.
Keadaan kembali normal. Ainosuke berkumpul bersama Hitomi-sensei, Kato-san dan Ohuchi-san. Ternyata Ohuchi-san mengalami patah tulang akibat peristiwa ini. Sementara Kato-san dan Hitomi-sensei baik-baik saja.
“Ah ya, terimakasih Ainosuke. Sekarang laptop itu masih aman pada kami. Untung kau memberikan ide untuk menukar laptop itu sebelum diambil si teroris. Oh ya, apa kau benar-benar tidak melihat wajah si pelaku?” selidik Ohuchi-san.
“Ah itu, tidak aku tidak melihatnya,” elak Ainosuke. Ia masih belum mau membocorkan identitas pelaku yang sebenarnya.
“Kalau begitu, baiklah. Tapi kau masih bersedia kan membantu kami?” kali ini pinta Kato-san.
“Iya, tentu saja.”
Ainosuke pulang ke rumah sendirian. Ia berhenti dan berdiri di dekat pagar yang membatasi sungai dan jalan. Ainosuke menutup mata kanannya. Detektif mata kiri a.k Hidarime Tantei Eye. The End. (eh ga dink, to be continue di edisi serialnya)

Jika banyak yang suka dengan dorama ini, ada kemungkinan Kelana akan buat lanjutannya a.k versi doramanya sebanyak 10 episode. Jadi kalau kamu emang suka sama si “Tanaka Ainosuke” a.k Yamada Ryosuke ini, jangan lupa comment dan di like ya 39^_^V
Picture and written by Kelana

SYNOPSIS: Hidarime Tantei Eye Sp part 2 - ending Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Elang Kelana

6 comments:

  1. akhirnya movie satu ini kelar juga
    hmmm . . . proyek selanjutnya, detective conan, kekekeke

    ReplyDelete
  2. eh ini yama-kun HSJ kan?
    wah doski emg keren beud ya
    klo sinopnya lanjut, gmn?
    hehehe ... (ngarep)

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. eeeeh, ad yg minta lanjut ya
      hmmm . . . sebenarnya pengen, tp ga bisa janji kpn
      cz saat ini list terdekat adalah atashinchi no danshi
      sama serial barunya mizobata junpei
      ya moga aj ad kesempatan ya ^_^
      trims wat komennya, simak juga sinop laen ya

      Delete
  4. Replies
    1. yup, bener banget
      buat yg pernah request sinop serial lanjutannya,
      tunggu aja di bulan agustus, dalam proses, hehehehe

      Delete

Thank 4 you're comment ^_^

About Me

My Photo

My nick-name is Elang Kelana, my real name is Bening. It'll be ok, just call me Kelana. I'm a blogger. I wrote about myself or about japanese on my blog. I love Japanese and Korean music, movie and drama. This is my blog, www.elangkelana.com

Google+